Heri Kiswanto: PSSI Gengsi Ubah Sanksi Sepak Bola Gajah

Mantan pelatih PSS Sleman, Heri Kiswanto, satu dari pelaku Sepak Bola Gajah yang tak mendapat pengampunan dari PSSI. Ia dihukum larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup karena dianggap terlibat langsung dalam skandal itu.

Skandal rekayasa hasil pertandingan itu terjadi pada babak delapan besar Divisi Utama pada 26 Oktober 2014. Pada laga itu kedua tim, PSS lawan PSIS Semarang, berupaya untuk kalah demi menghindari Borneo Pusamania FC di semifinal Divisi Utama.

Walhasil, laga diwarnai drama lima gol bunuh diri yang dilakukan PSS dan PSIS pada menit-menit terakhir. Karena lebih banyak membobol gawang sendiri, tim tamu PSIS kalah 2-3 dari lawannya itu.

Sontak, sejumlah nama yang terlibat langsung mendapat hukuman berat. Dari kubu PSS Sleman, pelatih Heri Kiswanto bersama Direktur Operasional PT PSS Rumadi dan Eri Febriyanto (sekretaris tim) dilarang aktif di sepak bola Tanah Air seumur hidup.

Heri langsung melawan karena merasa tak menginstruksikan para pemainnya melakukan gol bunuh diri. Sejumlah upaya dilakukan untuk mengubah keputusan PSSI.

Namun tak ada hasil. Heri justru tak diampuni oleh kepengurusan PSSI saat ini. Mantan pemain timnas Indonesia era 80-an ini lantas tak terima dan berusaha melakukan pembelaan lagi.

“Saya rasa itu tidak adil. Bahkan atas dasar apa PSSI menghukum saya terlalu berat. Jelas-jelas saya tidak bersalah. Itu diakui sekali lagi oleh empat pemain PSS saat dipanggil lagi oleh Komite Disiplin PSSI. Tapi mereka tak mengubah keputusannya,” kata Heri ketika dihubungi CNNIndonesia.com.

Menurut Heri, keputusan PSSI untuk tidak merevisi hukumannya hanya demi mempertahankan gengsi. Otoritas sepak bola Indonesia itu disebut tak mau dianggap justru melindungi institusinya sendiri.

“Mereka (PSSI) gengsi untuk merevisi sanksi. Mereka tentu ingin menyelamatkan diri sendiri karena pasti akan mengarah ke mereka sendiri,” ujarnya.

Tidak hanya pelatih dan tim ofisial, tiga pemain Elang Jawa yaitu Riyana, Agus Setiawan, dan Hermawan Putra Jati turut diganjar sanksi yang sama. Manajer tim Suparjiono pun dijerat hukuman yang setara.

Sementara dari kubu PSIS, manajer PSIS Wahyu Winarto dan pelatih PSIS Eko Riyadi, dihukum larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup. Mereka juga harus membayar denda Rp200 juta.

Tinggalkan Balasan